Edukasi Parenting
Edukasi Parenting
Blog yang berisi Edukasi Parenting Modern, dengan topik yang relevan, up to date dan relate dengan keseharian

Dampak dan Panduan Konflik Suami Istri di Depan Anak

Konflik suami istri di depan anak tidak selalu merusak. Yang menentukan adalah cara konflik terjadi dan apa yang dilakukan sesudahnya.

Pak Dimas tahu ia seharusnya tidak memulai argumen itu di meja makan. Tapi kelelahan sepulang kerja, ditambah istrinya yang tampak tidak mendengar apa yang ia katakan, membuat suaranya naik lebih dari yang ia inginkan. Istrinya membalas dengan nada yang sama. Dan di antara mereka, Kayla yang berusia 5 tahun duduk dengan garpu di tangan, matanya berpindah dari satu orang tua ke yang lain, wajahnya diam dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Argumen itu selesai dalam sepuluh menit. Tapi Pak Dimas tidak bisa melupakan ekspresi Kayla. Dan ia bertanya-tanya: seberapa besar kerusakan yang sudah terjadi?

Pertanyaan tentang konflik suami istri di depan anak adalah salah satu yang paling sering dicari oleh orang tua yang peduli, dan salah satu yang paling banyak memuat rasa bersalah. Artikel ini hadir bukan untuk menambah rasa bersalah itu, tapi untuk memberikan gambaran yang lebih tepat dan lebih berguna.

ilustrasi konflik suami istri di depan anak - eduparenting.my.id

Tidak Semua Konflik di Depan Anak Merusak

Ini mungkin terdengar kontraintuitif. Tapi penelitian tentang dampak konflik orang tua pada anak jauh lebih bernuansa dari narasi populer yang mengatakan bahwa anak sama sekali tidak boleh menyaksikan orang tuanya berselisih.

Peneliti Mark Cummings dari University of Notre Dame yang banyak meneliti topik ini menemukan bahwa anak-anak yang menyaksikan konflik ringan antara orang tua mereka, yang diselesaikan dengan baik dan yang tidak melibatkan anak, sebenarnya belajar sesuatu yang sangat berharga. Mereka belajar bahwa orang yang saling mencintai bisa berbeda pendapat, bisa mengekspresikan perasaan negatif, dan tetap menemukan jalan kembali ke resolusi. Ini adalah pelajaran tentang resolusi konflik yang sehat yang tidak bisa diajarkan secara teoritis.

Yang merusak bukan konfliknya sendiri. Yang merusak adalah karakteristik tertentu dari konflik itu, dan apa yang terjadi setelahnya.

Jenis Konflik yang Paling Berbahaya bagi Anak

Intensitas yang tinggi dan berulang. Konflik yang intens dengan suara keras, ekspresi wajah yang marah atau merendahkan, gerakan tubuh yang agresif, mengaktifkan respons stres pada anak yang dapat diukur secara fisiologis. Detak jantung naik, kortisol meningkat. Ketika ini terjadi berulang kali, respons stres yang teraktivasi terus-menerus mulai meninggalkan jejak yang nyata pada sistem saraf anak.

Yang paling merusak adalah konflik yang melibatkan kekerasan fisik atau verbal yang parah. Tapi bahkan konflik verbal dengan nada yang sangat memusuhi dan merendahkan secara konsisten dikaitkan dengan dampak psikologis pada anak.

Konflik yang melibatkan anak. Ketika konflik orang tua melibatkan anak secara langsung, bertengkar tentang cara mengasuh anak di depan anak itu sendiri, menggunakan anak sebagai argumen, atau meminta anak memihak, dampaknya jauh lebih merusak. Anak merasa bertanggung jawab atas konflik itu, merasa harus memilih, dan seringkali menyimpulkan bahwa ialah penyebab masalah orang tuanya.

Konflik yang tidak ada resolusinya. Ini adalah faktor yang paling sering diabaikan. Anak yang menyaksikan konflik orang tua yang diselesaikan dengan baik mengalami dampak yang jauh lebih kecil dari anak yang menyaksikan konflik yang berlangsung berhari-hari tanpa resolusi, atau yang berakhir dengan pintu yang dibanting dan keheningan yang berlangsung lama.

Anak sangat sensitif terhadap suasana emosional rumah. Ketegangan yang berlanjut jauh setelah konflik verbal selesai tetap dirasakan, dan seringkali lebih mengganggu dari konflik itu sendiri.

Apa yang Terjadi di Dalam Diri Anak

Memahami apa yang dialami anak saat menyaksikan konflik orang tua membantu orang tua merespons dengan lebih tepat setelahnya.

Anak kecil, terutama di bawah usia 8 tahun, sangat egosentris dalam cara mereka memproses kejadian di sekitar mereka. Ini bukan kesalahan mereka. Ketika ada sesuatu yang buruk atau menakutkan terjadi, pertanyaan pertama yang sering muncul dalam pikiran anak bukan "Apa yang terjadi?" tapi "Apakah ini karena aku?"

Selain rasa bersalah, anak juga sering mengalami kecemasan tentang keamanan hubungan orang tuanya dan secara ekstensi, keamanan hidupnya sendiri. "Apakah Ayah dan Ibu akan bercerai?" adalah pertanyaan yang muncul bahkan setelah pertengkaran yang tampaknya kecil, karena anak tidak memiliki referensi yang cukup untuk mengkalibrasi seberapa serius konflik yang mereka saksikan.

Saat Konflik Tidak Bisa Dihindari di Depan Anak

Orang tua yang realistis tahu bahwa tidak semua konflik bisa direncanakan untuk terjadi di waktu yang tepat. Kadang ketegangan meledak di momen yang tidak bisa dikontrol. Yang bisa dikontrol adalah apa yang terjadi selanjutnya.

Selama konflik berlangsung: turunkan intensitas secepat mungkin meski tidak bisa langsung berhenti. Hindari serangan personal dan bahasa yang merendahkan. Jika emosi sudah terlalu tinggi untuk bicara produktif, lebih baik mengambil jeda eksplisit, "Aku perlu beberapa menit dulu", daripada melanjutkan dalam kondisi yang memperburuk situasi. Dan jangan menarik anak ke dalam konflik dalam bentuk apapun.

Setelah konflik selesai: ini adalah bagian yang paling sering diabaikan dan paling penting. Jika anak menyaksikan konflik yang intens, orang tua perlu secara aktif check in dengan anak, tidak menunggu anak yang datang. Bukan dengan penjelasan panjang, tapi dengan pernyataan yang menenangkan dan sederhana.

Untuk anak usia 3 sampai 6 tahun: "Tadi Ayah dan Ibu sedang tidak satu pikiran. Sekarang sudah selesai. Kamu aman, ya."

Untuk anak usia 7 sampai 12 tahun: "Kamu mungkin tadi lihat Ayah dan Ibu berdebat. Itu tentang hal antara kami berdua, bukan tentang kamu. Kami baik-baik saja sekarang. Ada yang ingin kamu tanya atau ceritakan?"

Jika anak tampak cemas: "Kami tahu itu tidak nyaman untuk dilihat. Orang tua kadang tidak setuju, tapi kami tetap saling sayang dan selalu akan ada untuk kamu."

Dan jika kedua orang tua sudah menyelesaikan konfliknya dan melanjutkan dengan hangat, tunjukkan itu di depan anak. Anak yang melihat orang tuanya bisa kembali saling bersikap baik setelah konflik belajar sesuatu yang sangat berharga tentang bagaimana hubungan bekerja.

Kapan Perlu Bantuan yang Lebih Serius

Jika konflik di rumah secara konsisten bersifat intens, berulang tanpa resolusi, atau melibatkan kekerasan verbal atau fisik, ini adalah kondisi yang perlu ditangani lebih serius. Bukan hanya untuk kesejahteraan pernikahan, tapi untuk kesejahteraan anak yang tumbuh dalam suasana itu setiap hari.

Bantuan profesional dalam bentuk konseling pernikahan bukan pilihan terakhir dalam situasi ini. Ia adalah respons yang tepat dan bertanggung jawab, jauh lebih baik dari terus berharap situasinya membaik sendiri.


Malam itu, setelah Kayla tidur, Pak Dimas dan istrinya duduk bersama dan berbicara dengan nada yang jauh lebih tenang. Mereka menyelesaikan perbedaannya.

Dan keesokan paginya, mereka sarapan bersama Kayla seperti biasa, dengan tawa dan obrolan ringan. Kayla tidak tahu apa yang terjadi semalam. Yang ia tahu adalah bahwa Ayah dan Ibu baik-baik saja.

Dan itu lebih dari cukup.

Yang paling dibutuhkan anak bukan orang tua yang tidak pernah bertengkar. Yang mereka butuhkan adalah orang tua yang, bahkan saat berbeda pendapat, tetap menghormati satu sama lain, tidak melibatkan anak dalam konfliknya, dan cukup dewasa untuk menemukan jalan kembali ke satu sama lain.


Pernahkah anakmu menyaksikan konflik antara kamu dan pasangan? Bagaimana mereka merespons, dan apa yang ingin kamu lakukan berbeda lain kali? Bagikan di komentar dengan jujur, kita semua sedang belajar.

Posting Komentar