Parental Burnout: Kelelahan Orang Tua yang Bukan Kelemahan
Ada pagi-pagi tertentu di mana Bu Citra duduk di tepi kasur sebelum anak-anak bangun, dan merasakan sesuatu yang ia tidak tahu bagaimana menamakannya. Bukan marah. Bukan sedih. Lebih seperti... kosong. Seolah ia sudah memberikan semua yang ia punya dan tangki itu kini benar-benar habis.
Hari itu ia harus menyiapkan sarapan, mengantar anak ke sekolah, masuk rapat pukul sembilan, mengambil anak, mengerjakan PR bersama, memasak, memandikan, menidurkan, dan esoknya mengulangi semuanya lagi. Tapi yang ia rasakan bukan kelelahan fisik biasa. Ia lelah dengan cara yang jauh lebih dalam. Lelah dari dalam, dari inti dirinya sebagai ibu.
Bu Citra tahu ia mencintai anak-anaknya. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa sulitnya menemukan di mana cinta itu berada di bawah semua kelelahan itu.
Apa yang ia alami punya nama: parental burnout. Dan ia jauh lebih umum dari yang kebanyakan orang sadari.
![]() |
| Ilustrasi Parental Burnout - eduparenting.my.id |
Apa Itu Parental Burnout, dan Apa Bedanya dengan Lelah Biasa
Parental burnout adalah kondisi kelelahan ekstrem yang spesifik pada peran pengasuhan. Berbeda dari burnout kerja, berbeda dari depresi, dan berbeda dari kelelahan biasa yang bisa pulih setelah tidur malam yang baik.
Istilah ini pertama kali dikonseptualisasikan secara ilmiah oleh Moïra Mikolajczak dan Isabelle Roskam, dua psikolog dari Université catholique de Louvain di Belgia, yang mulai menelitinya secara serius sejak pertengahan 2010-an.
Menurut kerangka yang mereka kembangkan, parental burnout terdiri dari empat dimensi yang saling terkait: kelelahan ekstrem dalam peran sebagai orang tua, jarak emosional dari anak-anak yang sebelumnya tidak ada, perasaan tidak lagi efektif atau kompeten sebagai orang tua, dan kontras yang menyakitkan antara orang tua yang dulu dan sekarang, merasa menjadi sangat berbeda dari diri sendiri di masa lalu.
Yang membedakannya dari kelelahan biasa bukan intensitasnya saja, tapi sifatnya yang kronis dan spesifik pada peran pengasuhan. Orang tua yang mengalami burnout sering masih bisa berfungsi dengan baik di bidang lain kehidupan, pekerjaan, pertemanan, hobi. Tapi begitu kembali ke ranah pengasuhan, energi dan kehadiran emosional itu seolah lenyap.
Seberapa Umum Ini Terjadi?
Selama lama, parental burnout hampir tidak pernah dibicarakan. Bukan karena jarang terjadi, tapi karena ada hambatan sosial dan budaya yang sangat kuat untuk mengakuinya. Menjadi orang tua, terutama menjadi ibu, dibungkus dengan ekspektasi keibaan yang tidak boleh lelah, tidak boleh menyesal, tidak boleh merasa anak adalah beban.
Penelitian Mikolajczak dan Roskam yang dilakukan di 42 negara dan diterbitkan pada 2021 menemukan bahwa rata-rata sekitar 5 persen orang tua di seluruh dunia mengalami parental burnout yang klinis. Yang mengejutkan adalah negara-negara dengan ekspektasi pengasuhan yang paling tinggi, yang menekankan bahwa orang tua harus selalu ada, selalu sempurna, selalu berkorban, justru memiliki tingkat parental burnout yang lebih tinggi.
Ini bukan kebetulan. Ada hubungan langsung antara standar pengasuhan yang tidak realistis, yang sering disebarkan media sosial dan tekanan budaya, dengan kelelahan orang tua. Semakin tinggi jarak antara ideal yang dikejar dan realita yang dijalani, semakin besar risiko burnout.
Tanda-Tanda yang Perlu Dikenali
Salah satu tantangan parental burnout adalah bahwa ia berkembang secara bertahap. Bukan terjadi tiba-tiba, tapi menumpuk perlahan hingga pada titik tertentu orang tua menyadari bahwa ia sudah berada jauh di dalam kondisi itu tanpa tahu kapan ia masuk.
Tanda paling awal biasanya adalah kelelahan yang tidak pulih dengan istirahat. Tidur delapan jam tapi masih terasa kosong di pagi hari.
Kemudian mulai muncul jarak emosional. Bukan tidak mencintai anak, tapi kesulitan merasakan koneksi itu secara aktif. Momen-momen yang dulu menyentuh hati, tawa anak, pelukan sebelum tidur, mulai terasa seperti gerakan mekanis yang dilakukan karena harus, bukan karena benar-benar hadir.
Efisiensi pengasuhan mulai turun. Orang tua mulai melakukan hal-hal minimum yang diperlukan, kehilangan kreativitas dan antusiasme yang dulu ada. Iritabilitas meningkat, hal-hal kecil yang dulu bisa diabaikan kini memicu reaksi yang tidak proporsional.
Dan sering muncul perasaan ingin "kabur". Bukan benar-benar ingin meninggalkan keluarga, tapi keinginan intens untuk sejenak menjadi bukan orang tua.
Perasaan ini sering membawa rasa malu dan rasa bersalah yang sangat berat. Tapi ia adalah sinyal, bukan tanda karakter buruk. Sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu berubah, dalam beban, dalam dukungan, atau dalam cara orang tua memperlakukan dirinya sendiri.
Mengapa Ini Bukan Masalah Kecil
Ada alasan praktis mengapa parental burnout perlu ditangani, bukan hanya untuk kesejahteraan orang tua, tapi untuk anak-anaknya juga.
Penelitian Mikolajczak dan timnya menemukan bahwa parental burnout berkorelasi secara signifikan dengan peningkatan kekerasan verbal dan fisik terhadap anak, penelantaran emosional, dan pengasuhan yang lebih otoriter dan reaktif.
Ini bukan karena orang tua yang burnout adalah orang tua yang buruk. Ini karena otak yang kelelahan tidak memiliki sumber daya kognitif dan emosional yang cukup untuk merespons anak dengan sabar dan penuh kasih. Kemampuan regulasi emosi turun drastis saat energi cadangan habis. Dan anak-anak merasakannya, bahkan jika mereka tidak bisa mengatakannya.
Merawat diri sendiri sebagai orang tua bukan egois. Ia adalah prasyarat untuk bisa merawat anak dengan baik. Analogi masker oksigen di pesawat bukan klise, ia adalah fakta fisiologis dan psikologis.
Apa yang Bisa Dilakukan
Tidak ada satu solusi ajaib untuk parental burnout karena penyebabnya biasanya multifaktor dan personal. Tapi ada beberapa prinsip yang konsisten muncul dalam penelitian sebagai langkah yang membantu.
Langkah pertama adalah mengenali dan memberi nama kondisinya. Mengakui bahwa apa yang dirasakan itu nyata dan punya nama, bukan kelemahan karakter, bukan tanda tidak mencintai anak, bukan sesuatu yang seharusnya bisa diatasi sendiri dengan "lebih kuat." Menamai kondisi ini dengan tepat mengurangi rasa malu dan membuka pintu untuk mencari bantuan.
Kemudian bicara. Kepada pasangan, kepada orang yang dipercaya. Isolasi adalah salah satu faktor yang paling konsisten memperburuk parental burnout. Orang tua yang tidak pernah mengungkapkan apa yang mereka rasakan karena malu atau takut dihakimi membiarkan beban itu menggunung tanpa ada yang membantu menanggungnya.
Kurangi beban yang bisa dikurangi. Parental burnout sering diperburuk oleh perfeksionisme, standar pengasuhan yang sangat tinggi yang orang tua terapkan pada diri sendiri. Pertanyaan yang berguna: apa yang benar-benar harus dilakukan dengan sempurna, dan apa yang sebenarnya cukup dilakukan dengan "cukup baik"? Makan malam yang sederhana tapi dimakan bersama lebih baik dari makan malam yang elaborat tapi disiapkan oleh orang tua yang sudah kelelahan dan penuh ketegangan.
Dan jika parental burnout sudah sampai pada titik di mana ia memengaruhi hubungan dengan anak, hubungan dengan pasangan, atau kemampuan fungsi sehari-hari secara signifikan, bantuan profesional bukan pilihan terakhir. Psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam isu keluarga dan pengasuhan bisa membantu memetakan sumber stres dan membangun strategi yang lebih berkelanjutan.
Ada dua kalimat yang mungkin bisa membantu untuk memulai percakapan. Kepada pasangan: "Aku merasa sangat kelelahan dengan pengasuhan belakangan ini, bukan karena tidak mencintai anak kita, tapi karena aku butuh lebih banyak dukungan. Bisakah kita bicara tentang bagaimana membagi ini dengan lebih merata?" Kepada teman: "Aku mau jujur, aku sedang sangat kewalahan. Aku tidak butuh solusi, aku hanya butuh didengar."
Bu Citra akhirnya bercerita kepada suaminya. Sesuatu yang sudah lama ia tahan karena tidak mau terlihat "tidak kuat."
Percakapan itu tidak menyelesaikan semua masalah dalam semalam. Tapi ia membuka sesuatu yang penting. Mereka mulai mendistribusikan ulang tanggung jawab, dan Bu Citra mulai memberi dirinya izin untuk beristirahat tanpa rasa bersalah.
Beberapa minggu kemudian, di satu pagi yang biasa, ia duduk bersama anak-anaknya di meja makan dan mendengar tawa mereka. Dan merasakannya. Benar-benar merasakannya, bukan hanya menyaksikannya dari balik kelelahan.
Orang tua yang baik bukan yang tidak pernah lelah. Orang tua yang baik adalah yang cukup jujur untuk mengakui kelelahan itu, dan cukup berani untuk meminta bantuan.
Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar hadir, bukan hanya secara fisik tapi juga emosional, bersama anakmu? Dan satu hal apa yang bisa diubah minggu ini untuk memberi diri sendiri sedikit lebih banyak ruang? Bagikan di komentar, tanpa rasa malu, tanpa menghakimi. Kita semua sedang belajar.


Post a Comment